Home »

 
 

 

Berita Terbaru

Info Lowongan Kerja Indomart

Info Lowongan Kerja Indomart

 

Pengumuman Penerima PPA Tahap I Tahun 2017 FISIP

Dokumen di atas akan terbuka jika sudah mendukung Adobe Reader Download disini

 

Program Penghargaan Bagi Peneliti Unggul Bidang Penganekaragaman Pangan

Dokumen di atas akan terbuka jika sudah mendukung Adobe Reader Download disini Dokumen di atas akan terbuka jika sudah mendukung Adobe Reader Download disini Dokumen...

 
 

VISI DAN MISI  BIDANG KEMAHASISWAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

TAHUN 2012 – 2016

 

I.         Pendahuluan

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermantabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sebagai perguruan tinggi negeri yang merupakan sub sistem dari sistem pendidikan nasional, secara terus-menerus melakukan upaya terstruktur dan sistematis dalam mengembangkan iklim akademis yang demokratis agar dapat mendukung pelaksanaan proses pembelajaran yang mengarahkan mahasiswa menjadi insan cerdas, berkarakter, dan kompetitif.

Sementara itu, mahasiswa sebagai peserta didik diharapkan tidak hanya menekuni ilmu dalam bidangnya saja, tetapi juga beraktivitas untuk mengembangkan soft skills-nya agar menjadi lulusan yang mandiri, penuh inisiatif, bekerja secara cermat, penuh tanggung jawab, gigih, dan memiliki tradisi belajar yang tinggi sehingga mampu mengikuti perkembangan jaman. Kemampuan ini dapat mahasiswa peroleh dari pembekalan secara formal melalui aktivitas kurikuler dan ko-kurikuler, serta ekstra kurikuler. Dengan demikian proses pendewasaan mahasiswa dapat dicapai secara komprehensif melalui berbagai lini dan pendekatan.

Namun demikian, faktanya tidak semua mahasiswa mau dan mampu untuk menjadi pembelajar yang sukses. Acapkali mahasiswa hanya berorientasi pada pencapaian nilai atau prestasi akademik yang tinggi, namun mengabaikan kompetensi sosial, psikologis, dan lain-lain yang sebenarnya sangat dibutuhkan olehnya pasca berakhirnya pendidikan formalnya di perguruan tinggi. Tidak sedikit mahasiswa yang memiliki nilai akademik tinggi namun tidak memanfaatkan peluang untuk menggunakan waktunya dalam kegiatan ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler. Di sisi lain, tidak sedikit pula  mahasiswa yang aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan pengembangan soft skills lainya, namun tidak memperoleh nilai akademik yang tinggi, padahal di era persaingan bebas dibutuhkan figur lulusan yang tidak hanya memiliki hard skills yang baik, namun juga soft skills tinggi. Bahkan tak jarang, kendati keseimbangan antarkeduanya penting, keunggulan dalam aspek soft skills seringkali menentukan keberhasilan seseorang dalam meniti dan mencapai puncak karirnya.

Dalam konteks yang sinambung dengan hal tersebut terdapat pula kecenderungan yang mengkhawatirkan di kalangan mahasiswa, khususnya dalam praksis pergaulan di lingkungan kampus serta pada praksis kehidupan organisasi mahasiswa. Kecenderungan-kecenderungan tersebut tentu harus dicermati agar dapat diantisipasi dampak negatifnya. Adapun sejumlah kecenderungan negatif dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Pergaulan mahasiswa makin bebas dan kurang bertanggungjawab. Etika dan tata krama  di kalangan mahasiswa serta  antarmahasiswa dengan dosen dan pegawai makin memprihatinkan. Demikian pula dengan etiket dalam berbusana dalam lingkungan akademik. insiden menyontek dan plagiarisme yang marak, transaksi “jual-beli” nilai yang masih terjadi, manipulasi nilai, KRS, KHS, dll merupakan gejala yang nyata dari kecenderungan tersebut. Di samping disebabkan oleh persoalan lemahnya sistem pada umumnya, kondisi ini juga dikontribusi oleh beberapa faktor antara lain: (a)  “Tidak adanya” code of conduct dalam bersikap dan berperilaku sebagai akademisi; (b) Tidak tersosialisasikan dan terinternalisasinya sejumlah rule of the game terkait hal tersebut; (c) Tidak adanya kesamaan platform di kalangan dosen sebagai ujung tombak pembinaan mahasiswa dalam mensikapi pelanggaran etis dan etiket di kalangan mahasiswa; serta (c) Tidak tegasnya law enforcement terhadap pelanggaran etika maupun etiket di kalangan mahasiswa, pegawai, dan juga dosen sehingga terbangun atmosfir kebebasan yang tak bertanggungjawab.
  2. Kurang berfungsinya transfer of value dalam proses perkuliahan sehingga  pendidikan karakter, kepribadian dan budi pekerti menjadi terabaikan. Di samping itu kurangnya kebanggaan terhadap almamater serta lemahnya sense of belongingness terhadapnya di kalangan warga kampus bersenyawa dengan lemahnya pembinaan etika dan kepribadian mahasiswa, yang tampak dari maraknya sikap tak bertanggungjawab terhadap fasilitas kampus, serta penggunaan simbol-simbol almamater secara tidak proporsional dan bertanggungjawab. Kecenderungan ini disinyalir disebabkan oleh orientasi perkuliahan yang lebih menekankan pada efektivitas transfer of knowledge daripada transfer of values sehingga pendidikan telah berubah fungsi menjadi pengajaran yang rutin dan monologis. Lunturnya jiwa, semangat, karakter, dan nilai-nilai kebangsaan dan  kepahlawanan Sultan Ageng Tirtayasa (SAT) di kalangan warga kampus, tidak dihayati dan dihormatinya makna-makna simbolik pada lambang, hymne, dan mars Untirta, tidak terintegrasinya matakuliah yang berorientasi pada pendidikan nilai (MPK) dengan matakuliah yang berorientasi pada cognitive achievement, juga menjadi faktor yang mempengaruhi disorientasi ini.
  3. Rendahnya kualitas dan intensitas kegiatan kemahasiswaan yang berorientasi pada bidang penalaran menyebabkan makin berjaraknya agenda kurikuler dengan ko dan ekstrakurikuler. Kegiatan Ormawa pada umumnya  nyaris berorientasi pada aktivitas politik atau berbobot politik lebih tinggi, sedangkan sebagian kecil lainnya bersifat hedonistik tanpa berorientasi pada prestasi, baik aktivitas di bidang seni, olahraga, maupun minat dan bakat lainnya. Rendahnya partisipasi mahasiswa dalam lomba-lomba karya ilmiah, karya tulis, penelitian,  kewirausahaan, lemahnya lifeskill mahasiswa purnabelajar, banyaknya aktivitas non dan ekstrakurikuler yang bertabrakan dengan agenda kurikuler bahkan mengganggu agenda kurikuler, merupakan indikasi nyata dari kecenderungan ini. Gejala-gejala tersebut merupakan manifestasi dari rendahnya orientasi akademik dalam hampir setiap aktivitas ormawa. Berubahnya fungsinya P2KK dari agenda dan kegiatan akademik (kurikuler) menjadi agenda kegiatan kemahasiswaan (ekstrakurikuler), yang menyebabkan tidak berfungsinya P2KK sebagai sarana “transit ” bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dengan sistem dan kultur PT, merupakan fakta lain yang turut serta mempengaruhi motivasi dan orientasi belajar di perguruan tinggi.
  4. Akuntabilitas yang rendah dalam pengelolaan aset dan anggaran Organisasi Kemahasiswaan merupakan gejala lain yang patut dicermati. Sebagian terlembaga oleh kebijakan keuangan kampus yang “memaksa” ormawa untuk terbiasa membuat SPJ dimuka dan fiktif, sementara sebagian lain muncul karena lemahnya kontrol terhadap pertanggungjawaban atas dana masyarakat dan aset negara yang dikelola mahasiswa. Fakta tak terawat bahkan  “hilangnya” aset-aset ormawa pada hampir setiap momen suksesi kepengurusan, serta tidak adanya sustainabilitas antarkepengurusan Ormawa, adalah indikasi nyata dari hal ini. Sekretariat Ormawa yang banyak berubah fungsi menjadi “tempat kos” juga menggambarkan buruknya manajemen organisasi kemahasiswaan. “Korupsi” pada skala dan konteks tersebut telah menjadi penyakit kronis yang harus segera ditangani dengan manajemen “gawat darurat” dan dilakukan tindakan secara intensif dalam ruang “ICU” agar dapat diperbaiki. Tidak adanya sistem pengendalian manajemen, evaluasi, serta audit bagi organisasi kemahasiswaan merupakan salah satu faktor penyebabnya, disamping tidak efektifnya pola pembinaan serta monitoring dan evaluasi yang dilakukan bidang kemahasiswaan untuk melakukan pencegahan, pendampingan, supervisi, hingga pemberian sanksi bagi Ormawa yang buruk dalam pengelolaan organisasinya;
  5. Profesionalisme Ormawa dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan sudah sampai pada tingkat “memalukan”, apalagi bila kegiatan tersebut melibatkan/mengundang stakeholders dari luar kampus. Fakta ‘jam karet’ yang sudah sangat kronis, pembacaan ayat suci AlQur’an yang jauh dari kaidah tartil, protokoler penghormatan pada tamu yang buruk, belum termasuk soal outputoutcome, dan impact kegiatan yang tidak terukur. Juga kisruh Pemira yang secara laten berpotensi terjadi setiap tahunnya, sebagai akibat dari buruknya  kualitas UU dan/ Peraturan Fakultas yang dibuat Ormawa. Rendahnya disiplin mahasiswa, tidak adanya standard protokoler dalam Ormawa, tidak efektifnya kurikulum dan tak tepat sasarannya Latihan Kepemimpinan yang diselenggarakan Ormawa sebagai sarana kaderisasi selama ini, kurangnya sinergi dan kerjasama antar Ormawa, serta tidak efektifnya pembinaan terhadap Ormawa karena “terputusnya” hubungan organisatoris antara Rektorat/Fakultas/Jurusan/Prodi dengan Ormawa, merupakan prakondisi yang mempengaruhi menggejalanya sejumlah kecenderungan tersebut.
  6. Beasiswa disinyalir tidak tepat sasaran (khususnya BBM). Bahkan disinyalir ada “permainan” dalam seleksinya yang melibatkan staf terkait, sehingga tidak sedikit penerima BBM adalah mahasiswa yang tidak berhak. Sifat beasiswa yang umumnya adalah charity juga menyebabkan kurang bertanggungjawab para penerimanya. Tidak sedikit dana beasiswa yang diterima digunakan bukan untuk aktivitas dan/ atau sarana penunjang perkuliahan mereka. Beberapa mahasiswa penerima BBM bahkan “mendadak kaya” dan berubah gaya/penampilannya setiap kali uang beasiswa dicairkan. Tidak efektifnya sistem seleksi merupakan faktor sistemik yang berkontribusi terhadap hal ini, disamping persoalan mendasar pada orientasi pemberian beasiswa dan pembinaan pascapenerimaan beasiswa tersebut.
  7. Prestasi mahasiswa belum sampai pada taraf “menjual” nama Untirta di tingkat regional dan nasional. Pembinaan minat dan bakat tidak optimal mengingat raw input hasil seleksi mahasiswa baru tidak terarah dan terprogram. Dana kemahasiswaan yang sangat besar tidak cukup menghasilkan output, outcome, impact, dan benefit yang membanggakan almamater. Mahasiswa Untirta bahkan lebih dikenal sebagai demonstran yang identik dengan anarkhisme, kendati sebenarnya masih dalam taraf yang “wajar” dan terkontrol. Peningkatan kualitas seleksi mahasiswa baru, serta efektivasi program PMDK dan bidik misi guna menjaring mahasiswa dengan prestasi akademik dan non-akademik yang membanggakan, merupakan upaya yang harus dilakukan secara sistematis guna mengatasi kecenderungan negatif tersebut.

Dalam rangka menjawab sejumlah permasalahan itulah visi, misi, strategi, dan kebijakan bidang kemahasiswaan di FISIP UNTIRTA tahun 2012-2016 dirumuskan, dengan harapan dapat secara bertahap dan sistematis mengatasi sejumlah kecenderungan negatif  tersebut, sekaligus memperbaiki kualitas kehidupan kampus dan atmosfir akademik yang lebih baik.

II.        Landasan

Visi, misi, Strategi dan Kebijakan bidang kemahasiswaan ini disusun dengan berdasarkan pada landasan yuridis sebagai berikut:

  1. UUD 1945
  2. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional;
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan;
  4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2001 Tentang Pendirian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;
  5. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 155/U/1998 Tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi;
  6. Keputusan Mendiknas No. 045/U/2000 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi;
  7. Keputusan Mendiknas Nomor 232/U/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa;
  8. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 124/O/2004 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;
  9. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 10 Tahun 2007 Tentang Statuta Universitas Sultan Ageng Tirtayasa;
  10. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 230/MPN.A4/KP/2011 Tentang Pengangkatan Prof. Dr. H. Sholeh Hidayat, M.Pd sebagai Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Periode 2011-2015;
  11. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 26/Dikti/Kep/2002 Tentang Pelarangan Organisasi Ekstra Kampus atau Partai Politik dalam Kehidupan Kampus;
  12. Keputusan Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Nomor 169/UN.43/KP/SK/2011 Tentang Pengangkatan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Periode 2011-2015;
  13. Keputusan Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Nomor 001/UN.43/KP/SK/2012 Tentang Pengangkatan Pembantu Dekan di Lingkungan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Periode 2012-2016;

III.       Visi dan Misi

Berdasarkan sejumlah latar belakang, konsideran, kondisi eksisting, dan tantangan bidang kemahasiswaan di masa depan, maka visi pembinaan kemahasiswaan FISIP UNTIRTA tahun 2012-2016 dirumuskan sebagai berikut:

 “Terwujudnya Pola Pembinaan Kemahasiswaan dan Organisasi Kemahasiswaan yang Efektif dan Integral Dalam Menunjang Terbentuknya Figur Mahasiswa Intelektual Pembelajar yang Berkarakter dan Berprestasi, serta Organisasi Kemahasiswaan yang Profesional dan Akuntabel

Visi tersebut mengandung beberapa kata kunci yang menjadi fokus perhatian, yaitu:

  1. Bahwa fokus pembinaan bidang kemahasiswaan mencakup aspek mahasiswanya secara individu maupun kelompok, dan tata kelola organisasi mahasiswa sebagai wadah berhimpun mahasiswa;
  2. Efektivitas Sistem Pembinaan bermakna tercapainya standar pembinaan dan layanan bidang kemahasiswaan sebagaimana diatur dalam sejumlah peraturan perundang-undangan;
  3. Integral bermakna bahwa pembinaan kemahasiswaan dan Ormawa adalah bagian utuh dari bidang akademik sebagai core business perguruan tinggi, sehingga keterpaduan dan sinergi dalam pembinaan mahasiswa menjadi perhatian utama;
  4. Bahwa sebagai supporting system  yang integral dengan bidang akademik, luaran dari sistem pembinaan kemahasiswaan adalah dalam rangka menunjang terbentuknya figur mahasiswa intelektual pembelajar yang berkarakter dan berprestasi, serta Organisasi Kemahasiswaan yang profesional dan akuntabel.

Visi tersebut dimanifestasikan dalam sejumlah misi sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kualitas, kapasitas, dan integritas mahasiswa sebagai intelektual yang kritis, cinta tanah air dan bangsa, relijius, santun, dan berkarakter, serta menumbuhkembangkan tradisi belajar, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan yang berorientasi prestasi dalam rangka meningkatkan daya saing mahasiswa dan almamater;
  2. Mengembangkan layanan dan iklim kehidupan kampus kondusif dan demokratis yang dapat memfasilitasi tumbuh kembangnya idealisme dan prestasi mahasiswa yang membanggakan secara berkesinambungan;
  3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan dan tata kelola organisasi kemahasiswaan yang profesional, responsif, transparan, dan akuntabel dalam rangka meningkatkan derajat partisipasi mahasiswa dalam seluruh aktivitas ko kurikuler maupun ekstra kurikuler.

IV.       Strategi dan Kebijakan

Misi tersebut dijabarkan dalam strategi dan kebijakan yang executable guna mengimplementasikan visi dan misi tersebut.

baca selengkapnya Strategi dan Kebijakan

V.         Penutup

Visi, misi, strategi dan kebijakan ini disusun guna dapat menjadi landasan dalam pelaksanaan kegiatan bidang kemahasiswaan selama periode tahun 2012-2016 mendatang. Semoga Allah melimpahkan kemudahan dan petunjuk-Nya dalam implementasinya, sehingga dapat mencapai hasil sebagaimana tujuan yang diharapkan. Amien.

Serang,    Maret 2012

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni,

Gandung Ismanto, S.Sos., M.M.

NIP. 197408072005011001

portal akademik
Sistem Beasiswa Online
FISIP Untirta Repository